Senin, 30 Mei 2011

Korupsi yang Berhubungan dengan SUAP-MENYUAP VERSI KITA-KITA

Ini dia tindak korupsi yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Paling sering sich... kalo kita sedang berurusan dengan aparat. Tapi nggak menutup kemungkinan hal yang sama kamu lakukan di lingkungan sekolah atau tempat tinggal.
Menyuap APARAT
Lagi asik bawa motor, tau-tau ada peluit berbunyi. Ternyata tanpa sadar kamu menerobos lampu merah. Bisa dech, kamu cengar-cengir ke Pak Polisi yang nyetop. Buntut-buntutnya kamu minta damai- dengan cara memberi uang dalam jumlah tertentu. Ini artinya kamu korupsi!
Menyuap GURU
Gara-gara nggak belajar, ualangan matematika kamu jeblok. Trus, kamu datang dech... ke rumah Pak Guru sambil membawa bingkisan cantik. Harapannya, hati beliau melunak dan mau menaikkan nilai rapormu.nggak perlu ditanya lagi, ini artinya kamu korupsi!

Korupsi yang Merugikan Keuangan Negara VERSI KITA-KITA

Dalam kehidupan kamu sehari-hari, korupsi yang ngerugiin keuangan orang lain banyak terjadi. Dan jangan salah: situasi yang ngerugiin keuangan negara juga ada lho!
Korupsi yang Merugikan KEUANGAN KELUARGA
Contohnya gampang banget... kamu dititipin uang belanja ama ibu kamu.Kalo sampek ada uang yang kembalian yang kamu beliin coklat atau jajanan yang lain atau pulsa atau apalah- tanpa sepengetahuan ibumu, itu artinya kamu korupsi!
Korupsi yang Merugikan KEUANGAN SEKOLAH
Kamu adalah bendahara dalam panitia pensi (pentas musik) sekolah. Di proposal, kamu menulis dana yang dibutuhin Rp 13 Juta. Padahal yang kamu butuhin cuma 7,5 juta. (maksudnya sih..., sisa duitnya mau dipakek pesta pembubaran panitia). Jangan keburu seneng, Broer: apa yang kamu lakuin itu termasuk itungan korupsi!
Korupsi yang Merugikan KEUANGAN NEGARA
Malem minggu, kamu diajak ke sebuah party ama temen-temen. Kamu tau, inceran kamu bakal ada di situ. Biar keliatan keren, kamu bela-belain minjem mobil ama ortu. Padahal kamu tau kalo itu mobil DINAS yang harusnya cuma dipake ama bapak kamu. Kalo kamu sampe ngelakuin ini, jangan keburu ngerasa keren: kamu baru aja ngelakuin korupsi!

Rabu, 25 Mei 2011

MiGrasi Tenaga Kerja di Asia

Pertumbuhan Negara-negara industri mendorong terjadinya migrasi tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir, meskipun migrasi tenaga kerja masih dalam poporsi hitungan yang kecil untuk seluruh tenaga kerja di Negara-negara industri. ILO memperkirakan lebih dari 80 juta pekerja illegal, 27% berasal dari Asia. Kira-kira 2 juta pekerja tiap tahunnya mendapatkankontrak kerja baru yang menyebabkan mereka keluar negeri. Masalah terpenting untuk pemerintah dan PJTKI dalam migrasi tenaga kerja adalah fokus pada masalah: 1. perlindungan, dukungan dan layanan kepada tenaga kerja, 2. mengoptimalisasikan peran organisasi buruh migran.
Perlidungan yang diberikan Negara kepada para pekerja migran berfungsi untuk melindungi para tenaga kerja dari kekerasan dan keterlambatan pembayaran gaji. Untuk meningkatkan daya tawar tenaga migran maka perlu dilakukan, antara lain; mengadakan pelatihan dan pengembangan keterampilan, pengiriman yang tepat, pengaturan masalah fasilitas tenaga migran.
Fenomena migrasi merupakan sejarah yang komplek. Beberapa tahun ini muncul migrasi secara besar-besaran yang disebabkan dari ketimpangan di bidang ekonomi dan permintaan tenaga kerja, politik, faktor sosial, bencana alam, degradasi lingkungan, pertumbuhan populasi secara cepat, halangan dalam perdagangan dan investasi serta konflik sosial (Pueble Regional Conference, March 1996).
Legal dan struktur kerangka kerja untuk peraturan perekruitan, memberikan izin dan pegawasan kepada agency, memonitor agency dalam merekrut, proses pemberkasan para tenaga kerja, menyediakan bantuan hukum kepada para tenaga migran di luar negeri, peran agency swasta dalam rekruitmen tenaga kerja, peraturan dan mekanisme untuk mengatur rekruitmen tenaga kerja, malpraktek agency swasta, malpraktek tenaga kerja, rekruitmen illegal dan imagrasi tidak syah, ganti rugi untuk pelanggaran hak tenaga kerja, standar minum untuk menyelanggarakan usaha, mekanisme yang lain dalam mengecek pelanggaran yang dilakukan agency dalam rekruitmen, pelatihan dan praktek yang tepat dalam peraturan rekruitmen. Hal-hal tersebut perlu mendapat perhatian serius pemerintah dalam menangani masalah TKI dan TKW.

Kesimpulan
Proteksi merupakan hak pekerja migran yang harus mendapatkan prioritas utama dari pemerintah yang mengirim tenaga kerja migran. Untuk mencapai ini semua, maka harus membuat upaya tepat untuk menjamin sebuah mekanisme penjagaan dan perlindungan tenaga migran dari agen-agen jahat dan tidak berizin yang memperoleh keuntungan dari kurangnya informasi, peraturan dan prosedur yang berpengaruh pada pekerja di luar negeri.

Diam daLam Asa

Ketika suara sedang terdiam dalam asa
Penglihatan pun kian kabur
Tak ada kejelasan dari sebuah garis penglihatan
Hanya yang terlihat warna hitam 

Cukup sekilas ku belalakkan mata ini
Tanpa ada cahaya yang menyertainya
Hanya gelap tanpa asa
Asa yang terkubur dalam kegelapan

Terdiam
Dan membisu
Dalam kegelapan asa
Tanpa ada daya dan tenaga

Duhai Dewiku


Aku selalu ikuti semua cerita tentangmu, hari-harimu
Kau… jadi inspirasiku, semangat hidupku di kala ku sedih
Di kala ku senang,
Di saat sendiri dan kesepian kau bintang di hatiku
Apapun yang kau lakukan baik dan buruk bagiku tetap indah
Tak satupun alas an untuk melupakanmu meninggalkanmu

Aku selalu berdiri mendukungmu di kala engkau terbang
Di kala engkau jatuh
Sampai mati ku tetap setia

Aku selalu berdiri di belakangmu
Di kala engkau dipuja
Di kala engakau di hina
Sampai mati ku kan tetap membela

Kau tetap bintangku
Kaulah superstarku

Budaya Konsumtif Pengguna Kartu Kredit

A. Pendahuluan
Pusat-pusat perbelanjaan yang makin menjamur di Indonesia mendorong masyarakat untuk lebih konsumtif dalam kehidupan sehari-hari. Surabaya misalnya, salah satu kota yang bisa masuk kategori sangat makmur. Mulai mall yang sekadar untuk tempat nongkrong hingga mall papan atas yang khusus menjual barang barang bermerek mahal semuanya tersedia. Di kota yang berjuluk Kota Pahlawan itu kini sudah ada sekitar 20 mall lebih dan beberapa diantaranya masih dalam proses pengerjaan termasuk diantaranya Plaza Surabaya, World Trade Center (WTC), Tunjungan Plaza (TP), Mall Galaxy, Hi-Tech Mall, ITC Mega Grosir, City of Tomorrow, BG Junction, Maspion Square, Golden City Mall, Plaza Marina, Darmo Trade Center, Pasar Atom Mall, Surabaya Town Square, Pakuwon Trade Center-Supermall Pakuwon Indah (PTC-SPI), Royal Plaza, Pasar Turi Mall, Jembatan Merah Plaza, dan Empire Palace. Termasuk yang masih dalam proses pengerjaan diantaranya Ciputra World Surabaya milik PT Ciputra Surya Tbk serta Grand City Mall besutan PT Hardaya Widya Graha. Tak mau ketinggalan, pengembang PT Bukit Darmo Property Tbk juga tengah membangun LenMarc Shopping Mall. Adanya serbuan mall ini dapat dipandang sebagai show of force (unjuk gigi) kepada publik bahwa Surabaya memang kota metropolis terbesar kedua setelah Jakarta. Dan, sebagaimana layaknya kota metropolis pembangunan fisik selalu diutamakan.
Sifat konsumtif menimbulkan kesadaran seseorang untuk bisa memiliki alat bantu yang bisa mempermudah proses transaksi, tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar. Keadaan ini dimanfaatkan para pengusaha untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan menawarkan produk-produk dengan makin gencar, salah satunya adalah pengusaha kartu atau bank (Soebhektie dalam Adrianto & Achmad, 2002: 36).
Bank-bank di Indonesia pada umumnya mengeluarkan dua jenis kartu yaitu kartu debit dan kartu kredit. Hingga akhir tahun 2003, bank-bank di Indonesia telah menerbitkan 13 juta kartu debit dan 4 juta kartu kredit. Kepemilikan kartu debit memang lebih banyak dibandingkan kartu kredit karena sikap orang Indonesia yang tidak mau pusing memikirkan hutang sehingga lebih memilih kartu debit. (www.kompas.com/2003).
Kartu kredit menawarkan banyak kemudahan-kemudahan. Kemudahan dan manfaat yang menjanjikan tersebut menarik banyak nasabah untuk memiliki kartu kredit. Keberhasilan penawaran kartu kredit ini dibuktikan dengan peningkatan jumlah pemegang kartu kredit yang sangat tajam dari tahun ke tahun. Kartu kredit yang diterbitkan di Indonesia pada tahun 1999 sebanyak 2.360.000 keping sedangkan hingga tahun 2004 tercatat lebih dari 5.500.000 keping (Sucipto, 2004: 16). Pertumbuhan kepemilikan kartu kredit meningkat pesat pada akhir tahun 2005 karena tercatat ada 7.000.000 keping kartu kredit yang beredar (Elisabeth, 2005: 2). Kondisi demikian menunjukkan bahwa kartu kredit telah menjadi suatu kebutuhan yang dianggap cukup penting bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Kebiasaan bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit dan bukan dengan uang tunai menjadi sangat diminati khususnya oleh masyarakat kota karena bisa menghemat waktu dan memberikan banyak keuntungan bila digunakan, misalnya mendapatkan bonus poin atau potongan harga (www.kompas.com/2003).

B. Pembahasan
Berbicara tentang belanja. Tentunya tidak jauh dari sebuah minat atau dorongan yang muncul dari diri. Secara teoretis, minat dirumuskan sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah, 2003: 151). Dalam konteks ini, minat berbelanja dengan menggunakan kartu kredit dapat diartikan sebagai kecenderungan atau keinginan seseorang untuk melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit.
Kartu kredit adalah sebuah alat pembayaran yang berupa sebuah kartu yang tertera nama dan tanda tangan pemilik dan dapat digunakan untuk membayar barang yang dibeli dengan dana yang dipinjamkan oleh suatu instansi di tempat-tempat yang bersedia menerima pembayaran tanpa harus mengeluarkan uang tunai.
Berpangkal dari konsep minat dan kartu kredit seperti yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa minat menggunakan kartu kredit adalah perasaan tertarik yang disertai dengan perasaan senang untuk menggunakan alat pembayaran berupa kartu yang dananya dipinjamkan oleh suatu instansi di tempat-tempat yang bersedia menerima pembayaran tanpa harus mengeluarkan uang tunai.
Salah satu aspek yang mempengaruhi budaya konsumtif adalah gaya hidup yang merupakan ekspresi dari keseluruhan kepribadian yang ada pada diri individu dalam berinteraksi dengan lingkungan serta tercermin dalam cara individu memanfaatkan waktu dan uang, minat yang dimiliki, dan pandangan mengenai hal-hal yang berlangsung di sekitar individu yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku individu tersebut, termasuk dalam menentukan pilihan konsumsinya.
Seseorang yang termasuk segmen gaya hidup achievers adalah seseorang yang berorientasi pada status, suka mencapai sasaran diri melalui ketrampilan dan kerja. Achievers memiliki kemampuan yang tinggi dan aktif serta memiliki komitmen yang tinggi terhadap keluarga dan pekerjaan. Sebagian besar dari achievers mengganggap pekerjaan sebagai sarana yang tepat untuk mendapatkan kesempatan berkarier dan imbalan materi (SRI, 2005).
Achievers memiliki kontrol yang cukup baik dalam hidup, menganggap citra diri sebagai suatu upaya untuk menunjukkan kesuksesan yang telah mereka raih. Oleh karena itu, achievers lebih suka membeli produk dan menggunakan jasa yang sudah terkenal dan memiliki gengsi yang tinggi. Kehidupan achievers yang banyak bekerja dan kurang rekreasi menjadikan mereka mudah tertarik dengan segala perangkat yang bisa menghemat waktu (Hawkins, Best, & Coney, 2004).

C. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya konsumtif pengguna kartu kredit dipengaruhi oleh gaya hidup sebagai citra diri untuk menunjukkan kesuksesan yang telah mereka raih. Para pengguna kartu kredit suka membeli produk dan menggunakan jasa yang sudah terkenal dan memiliki gengsi yang tinggi.
Pihak bank sendiri semakin gencar untuk bersaing memberikan pelayanan yang terbaik dan mudah sekaligus meningkatkan keuntungan perusahaan dengan menawarkan produk-produk yang menarik untuk mendapatkan nasabah.

Daftar Pustaka
Adrianto, F., Achmad A . 2002. Kartu kredit : Kayuhan BNI mengejar Citybank. Warta Ekonomi.
Elisabeth, B. 2005. Merancang Keuangan Lewat Kartu Kredit, Tabloid Bisnis Uang.
Hawkins, D. I., Best, R. J., & Coney, K. A. 2004. Consumer Behavior : Building Marketing Strategy. 9 edition. New York : McGraw Hill.
Sucipto. 2004. Bisnis kartu kredit (jangan) terlalu melejit. Warta Ekonomi.
SRI Consulting Business Intelligence. 2005. The VALS Segments. (online). Diakses 29 Juni 2005 dari http://www.sric-bi.com/VALS.
Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
www. Kompas.com/2003. Diakses pada 27 Maret 2011.

Pasar Tradisional Kriyek

A. Latar belakang
Pasar merupakan sebentuk organisasi dimana pembeli dan penjual terhubungkan satu sama lain dengan hubungan yang erat. Di dalam pasar tersebut, terdapat satu atau beberapa orang produsen yang menjajakan barang-barangnya bagi konsumen. Sehingga mengakibatkan adanya tranksaksi antara kedua bela pihak yakni pembeli dan penjual. Tranksaksi merupakan kesepakatan dalam jual beli. Syarat terjadinya transaksi adalah ada barang yang diperjual belikan, ada pedagang, ada pembeli, ada kesepakatan harga barang, dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
Pasar mempunyai banyak jenis, diantaranya pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional, yaitu pasar yang dibangun oleh pihak pemerintah, swasta, koperasi, dan swadaya masyarakat. Tempat usahanya dapat berbentuk toko, kios, los, dan tenda yang menyediakan barang-barang konsumsi sehari-hari masyarakat. Pasar tradisional biasanya dikelola oleh pedagang kecil, menengah, dan koperasi. Proses penjualan dan pembelian dilakukan dengan tawar-menawar dan para pengelolanya bermodal kecil. Contoh pasar tradisional wonokromo Surabaya. Sedangkan pasar modern adalah pasar yang dibangun oleh pihak pemerintah, swasta, dan koperasi yang dikelola secara modern. Pada umumnya pasar modern menjual barang kebutuhan sehari-hari dan barang lain yang sifatnya tahan lama. Modal usaha yang dikelola oleh pedagang jumlahnya besar. Kenyamanan berbelanja bagi pembeli sangat diutamakan. Biasanya penjual memasang label harga pada setiap barang. Contoh pasar modern yaitu plaza, supermarket, hipermart, dan shopping centre.
Pasar tradisional sekarang ini keberadaannya sudah mulai menuyusut, karena terkalahkan dengan keberadaan pasar modern, apalagi di kota-kota besar. Berbeda dengan di pedesaan pasar tradisional masih menjadi kepercayaan dan disukai oleh masyarakat. Keberadaannya pun masih tetap langgeng dengan para pembeli atau pelanggang yang berasal sekitar pasar tersebut.

B. Pasar Kriyek Masyarakat Desa Sawo
Pasar kriyek merupakan sebutan pasar tradisional bagi masyarakat desa Sawo. Pasar kriyek ini buka setiap hari mulai habis shubuh sampai jam 07.30 WIB. Pasar ini menjual kebutuhan sehari-hari untuk memasak, seperti sembako, sayur-mayur, lauk-pauk, buah-buahan dan jajanan pasar. Pasar ini berada di belakang balai desa. Yang letaknya lumayan strategis yang bisa dijangkau oleh masyarakat sekitar. Para pedagang di pasar kriyek ini adalah warga asli desa Sawo. Setelah sholat shubuh para pedagang tersebut mulai berangkat ke pasar kriyek dengan membawa barang dagangannya. Terkadang para pedagang tersebut dibantu suami atau istri dan atau anaknya untuk membantu membawa barang dagangannya. Sesampai di pasar, pedagang tersebut langsung bergegas menata barang yang akan dijajakan. Sebelum para pembeli datang.
Pasar kriyek ini tidak begitu besar, hanya terdiri dari 13 lapak saja. Yang lapak-lapak tersebut ukurannya pun tidak begitu luas dan terbuat dari bambu. Setelah shubuh pasar kriyek ini sudah ramai dengan pembeli. Pembelinya pun warga desa Sawo. Namun, terkadang ada satu dua orang pembeli dari desa sebelah yang berbelanja di pasar kriyek ini.
Pukul 07.00 WIB pasar sudah mulai sepi pengunjung yang berbelanja. Ada pembeli yang dagangannya mulai habis terjual. Ada juga yang masih banyak. Namun, karena pembeli sudah sepi dan hampir sudah tidak ada. Maka para pedagang di pasar kriyek ini mulai merapikan dagangannya untuk dibawa pulang, dan esok harinya dibawa kembali untuk dijajakan.
Hal yang menarik dalam pasar kriyek ini adalah transaksi jual belinya yang bersifat kekeluargaan. Setiap pembeli boleh menawar dengan harga sesuai keinginannya dan penjual sringkali memberikan barang dagangannya pada pembeli dengan harga yang ditawarnya meskipun pedagang tersebut tidak mendapatkan untung yang banyak. Apalagi pedagang dan pembeli tersebut masih ada hubungan keluarga atau kenal dekat, terkadang pedagang tersebut memberi apa yang dibeli oleh pembeli dengan porsi yang lebih, bahkan juga terkadang memberinya cuma-cuma tanpa harus membayar sepeserpun.
Para pedagang tersebut tidak memikirkan untung rugi. Namun, yang dikedepankan adalah nuansa kekeluargaan dan komunikasi yang baik antar warga. Sehingga, laba yang dihasilkan tidak banyak. Dalam pikirannya adalah memperbaiki social norm, dan mengesampingkan market norm. Budaya dan norma-norma sosial yang berada dalam masyarakat menjadi hal penting dan harus dipatuhi oleh masyarakat desa Sawo. Sehingga, teori ekonomi dengan modal yang sedikit, mendapatkan laba yang banyak. Dimana yang selalu mengedepankan market norm daripada social norm, tidak begitu berlaku dalam masyarakat desa Sawo.

Sumber Rujukan
Rosyidi, Suherman. 2006. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
http://syadiashare.com/jenis-jenis-pasar.html. (online). Diakses pada 29 April 2011.
http://www.g-excess.com/id/pengertian-pasar-menurut-fisik-pasar.html.(online). Diakses pada 29 April 2011

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites