Tampilkan postingan dengan label PKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

TAKING POVERTY EFFORT THROUGH GIVING GENDER ORIENTATION MICRO CREDIT AND CRITICAL EDUCATION

Iffah Hidayatur Rohmah, Adnan Khassogi, Siti fatkhiyatul Jannah
History Education Faculty, Surabaya University


ABSTRACT

The building of shopping centers in Surabaya seems contradictive to the complexity of poverty and bad nutrient problems that have not been exceeded completely. Besides the result of building shopping centers, poverty and bad nutrient problems in Surabaya make it bad by realizing that in the year of 2010, the Center Government has already agreed with trading zone ASEAN-China (ACFTA).
The Government has already done effort such as the wisdom to take poverty problem. A program to take poverty problem that has been done is taking city poverty program (P2KP). The ideas that exist in this script, P2KP has to be combined with giving micro credit to the housewife who own micro business. Micro credit is a chain that sometime missing for the poor family who try to open micro business to defend their lives. Micro credit is being needed to supply capital in order to get start or continue their micro business to develop their income. However, in reality, micro credit that still has to use gender-neutral system is not effective because women nowadays are still facing structural obstacle in developing their business. This is become the reason to give more attention toward women. The argument that women are suitable to be the main target of micro credit is being supported by prove that women are able to survive toward the poverty.
The effort of giving micro credit that oriented to the endeavor of women will be effective to solve poverty and bad nutrients problem if also being supported by a proper education to the society. In curriculum planning and basic competence standard is not being limited to the development of life skill, but also to the ability students to think critically. The ability to think critically can make them able to see the existence of social contradictions critically, then change the social contradiction in order to be humanly and equitable. Critical education becomes soft skill that completes student’s hard skill.

Keyword: Poverty, Micro Credit, Gender, Critical Education

UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN MELALUI PEMBERIAN KREDIT MIKRO BERORENTASI GENDER DAN PENDIDIKAN KRTIS

Iffah Hidayatur Rohmah, Adnan Khassogi, Siti fatkhiyatul Jannah
Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Surabaya

ABSTRAK

Pembangunan mall-mall di Surabaya terlihat kontradiktif dengan kompleksitas permasalahan kemiskinan dan gizi buruk yang masih belum teratasi secara tuntas. Selain akibat dari pembangunan mall-mall, masalah kemiskinan dan gizi buruk di Surabaya bisa semakin parah mengingat bahwa di tahun 2010, pemerintah pusat telah menyetujui pelaksanaan zona perdagangan Asean-China (ACFTA).
Pemerintah telah melakukan upaya berupa kebijakan-kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan. Salah satu program pengentasan kemiskinan yang saat ini tengah dijalankan adalah program pengentasan kemiskinan di perkotaan (P2KP). Gagasan yang ada pada tulisan ini, P2KP dikombinasikan dengan pemberian kredit mikro bagi ibu rumah tangga pelaku usaha mikro. Kredit mikro adalah mata rantai yang kerap kali hilang bagi keluarga miskin yang mencoba membuka usaha mikro untuk mempertahankan hidupnya. Kredit mikro diperlukan guna menyediakan modal untuk memulai atau melanjutkan usah mikro dalam rangka meningkatkan pendapatan. Namun dalam prakteknya kredit mikro masih menggunakan sistem netral gender yang kurang efektif karena selama ini perempuan menghadapi hambatan struktural berupa kesulitan dalam pengembangan usaha. Hal tersebut yang menjadi alasan untuk memberi perhatian lebih besar terhadap perempuan. Argumen bahwa perempuan layak menjadi sasaran utama pemberian kredit mikro didukung oleh bukti bahwa perempuan lebih mampu bertahan terhadap kemiskinan yang mereka derita.
Upaya pemberian kredit mikro yang berorientasi pada pemberdayaan perempuan akan semakin efektif untuk menanggulangi permasalahan kemiskinan dan gizi buruk jika ditopang dengan pendidikan yang memadai bagi warga. Dalam hal perencanaan kurikulum dan standar kompetensi dasar tidak sebatas pada peningkatan life skill, tetapi juga pada kemampuan anak didik untuk berpikir secara kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat membuat mereka mampu untuk melihat secara kritis kontradiksi-kontradiksi social yang ada, untuk kemudian mengubah kontradiksi social tersebut agar menjadi lebih manusiawi, adil dan egaliter. Pendidikan kritis merupakan soft skill yang melengkapi hard skill peserta didik.


Kata kunci : kemiskinan, kredit mikro, gender, pendidikan kritis

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites